Pemuda diharapkan memiliki peran besar dalam membantu penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia. Betapa tidak, penduduk usia muda merupakan yang paling tinggi terinfeksi HIV. Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan, secara kumulatif hingga Juni 2008 terdapat 18.963 kasus HIV/AIDS (6.277 HIV positif dan 12.686 AIDS). Dari jumlah itu, sekitar 53 % terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 %. Dengan latar seperti itu, secara nasional pemerintah menetapkan peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun ini dengan tema “Yang Muda Yang Membuat Perubahan”. Secara internasional, Hari AIDS Sedunia (HAS) yang diperingati setiap tahun pada 1 Desember mengambil tema “Kepemimpinan”.
Menko Bidang Kesejahteraan Rakyat, selaku Ketua KPA Nasional, Aburizal Bakrie dalam sambutannya di Buku Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari AIDS Se-Dunia Tahun 2008 mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda dalam upaya menanggulangi epidemi ganda AIDS dan narkoba di tanah air akan mengubah jalannya epidemi. Menurut Aburizal, pemerintah pusat dan daerah harus mendorong kepemimpinan pemuda khususnya dalam upaya pencegahan penularan HIV. Sementara itu puncak peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) tingkat Provinsi Jawa Barat akan berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Banceuy, pada Sabtu, 13 Desember 2008. Sejumlah kegiatan akan digelar, di antaranya seminar/diskusi tentang HIV/AIDS, lomba poster antarwarga binaan,kegiatan olahraga, dan sejumlah pentas seni. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur baik pemerintah maupun LSM yang aktif dalam penanggulangan AIDS. Melalui penyelenggaraan peringatan HAS 2008 di Lapas Banceuy ini, diharapkan informasi tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dapat tersosialisasikan dengan baik, termasuk kepada warga binaan yang ada di lingkungan Lapas Banceuy di mana seluruh penghuninya terkait dengan kasus narkoba.
Seperti diketahui, hingga September 2008, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat secara kumulatif terdapat 4.051 kasus HIV/AIDS (1.726 HIV positif dan 2.325 AIDS). Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 67 % kasus HIV/AIDS disebabkan penggunaan jarum suntik tidak steril di kalanganpengguna narkoba suntik.
Sekilas Sejarah Hari AIDS Sedunia (HAS) Konsep Hari AIDS Sedunia (HAS) berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan untuk Program Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Konsep ini kemudian diambil alih oleh pemerintah, lembaga-lembagainternasional serta lembaga amal (charities) di seluruh dunia. Hari AIDS Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember untuk meningkatkan kesadaran akan pandemi AIDS global akibat penyebaran infeksi HIV.Dari tahun 1988 hingga 2004, badan PBB untuk menanggulangi AIDS, UNAIDS menjadi ujung tombak kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema tahunan dengan konsultasi dengan lembaga-lembaga kesehatan global lainnya. Pada tahun 2005 tanggung jawab ini diambil alih oleh Kampanye AIDS Sedunia, yang kemudian memilih Stop AIDS: Tepati Janji sebagai tema utama peringatan-peringatan Hari AIDS Sedunia hingga 2010, dengan sub-tema yang lebih spesifik yang dipilih setiap tahunnya.
Tema ini tidak digunakan hanya untuk Hari AIDS Sedunia tapi juga sepanjang tahun dalam upaya meningkatkan kesadaran akan HIV/AIDS dalam konteks kegiatan global lain termasuk Pertemuan Puncak G8. Kampanye AIDS Sedunia juga melaksanakan kampanye-kampanye lokal di seluruh dunia, seperti Kampanye Stop AIDS Mahasiswa, sebuah kampanye peningkatan kesadaran HIV yang menyasar orang muda di Inggris.
The Journalist is Bayu Putra Label:
Dokter Albert Schweitzer, seorang dokter misionaris di pedalaman Afrika dan seorang pemenang hadiah nobel pernah menyatakan bahwa: ”The real doctor is the doctor within.” Yang beliau maksudkan adalah bahwa sesungguhnya diri kita sendirilah yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang kita derita. Berikut adalah artikel yang saya ambil dari buku CREATE YOUR OWN CHEESE. Sering kita tidak menyadari bahwa ketika kita mengalami sakit yang parah, satu-satunya yang dapat menyembuhkan diri kita adalah diri kita sendiri. Para dokter dan pengobatan yang kita terima sesungguhnya hanyalah stimulan bagi proses kesembuhan kita. Tubuh kita sendirilah -- melalui mekanisme imunitas tubuh, sel-sel darah putih dan organ-organ tubuh lainnya -- yang bekerja mengatasi dan menyembuhkan penyakit kita. Nah siapakah yang mengendalikan kerja sel-sel dan organ internal kita? Meskipun setiap individu sel dalam tubuh kita pada prinsipnya memiliki proses berpikir, tetapi keseluruhan harmoni atau keselarasan kerja setiap sel dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita. Apa artinya ini? Kalau kita bisa mengendalikan pikiran bawah sadar kita, berarti kita dapat sepenuhnya mengendalikan kerja setiap individu sel dalam tubuh kita untuk membangun tubuh yang sehat dan terbebas dari berbagai penyakit.
Tubuh Memiliki Mekanisme Penyembuhan Sendiri Your body is a miraculous self healing mechanism built to look after anything that happens to it. Dalam bukunya Mind Power, John Kehoe menjelaskan bahwa tubuh kita sesungguhnya memiliki mekanisme untuk memperbaiki atau menyembuhkan dirinya jika ada sesuatu yang terjadi padanya. Pada saat tubuh kita terluka misalnya, sel-sel darah putih segera bergerak menuju bagian yang terluka untuk memerangi infeksi sedangkan sel-sel darah lainnya segera membekukan darah kita dan menutup luka tersebut. Semua sepertinya terjadi otomatis; kita tidak perlu melakukan apa-apa. Tubuh kita sepenuhnya siap dan mengetahui bagaimana memperbaiki dirinya.Ketika kita makan, tubuh kita segera mencerna makanan tersebut dan mengambil sari-sari makanan untuk diubah menjadi energi yang diperlukan bagi seluruh bagian tubuh kita. Selanjutnya cairan getah bening mengangkut buangan dan sel-sel mati untuk diproses keluar dari tubuh kita. Semuanya terjadi otomatis, kita tidak perlu memikirkannya maupun mengendalikannya. Demikian pula kalau tangan kita patah. Apakah dokter yang menyembuhkannya. Bukan. Dokter hanya memperbaiki letak dan posisi tulang kita serta memasang ”gips” agar tulang kita tidak bergerak. Namun proses penyembuhan selanjutnya dilakukan oleh tubuh kita sendiri.Jadi ketika kita atau anggota keluarga kita mengalami sakit yang cukup parah, kita harus meyakini bahwa tubuh kita sendirilah sebenarnya yang dapat menyembuhkan penyakit yang kita derita Kesehatan kita adalah tanggung jawab kita. Kita harus mengambil peranan yang aktif dalam kesehatan dan kesembuhan kita. Karena seperti dikatakan oleh Dr. Albert Schweitzer -- seorang dokter berkebangsaan Jerman, pemenang hadiah Nobel yang mengabdikan dirinya di Afrika – bahwa dokter sejati adalah dokter yang ada di dalam diri kita.Penulis buku, Piece of Mind, Sandy MacGregor mulai mengenal dan kemudian mengembangkan manfaat kekuatan pikiran bawah sadar sesudah mengalami peristiwa kesembuhan anaknya dari sakit asma yang cukup parah melalui teknik relaksasi yang diajarkan oleh dokter yang merawatnya. Dokter itu tidak hanya mengajarkan untuk mengontrol rasa sakitnya, tetapi juga mengajarkan cara menyembuhkan dirinya sendiri. Kisah Kesembuhan oleh Diri Sendiri Berikut adalah kisah menarik yang mungkin dapat memberi kita inspirasi tentang betapa dahsyatnya kekuatan pikiran kita untuk menyembuhkan penyakit yang amat berat. Pengalaman ini diceritakan oleh Martin Brofman setelah memperoleh bimbingan tentang teknik pendayagunaan pikiran dari John Kehoe. Ketika dia berusia tiga puluh empat tahun, dia divonis oleh dokter mengidap tumor otak yang sangat berbahaya dan telah memasuki stadium akhir. Dia diberitahu bahwa hidupnya tinggal 2 bulan sampai satu tahun lagi. Namun dia tidak menyerah dan bertekad untuk menyembuhkan dirinya sendiri.Dia mulai melakukan meditasi dua kali sehari selama lima belas menit. Pada layar imajiner dalam pikirannya, dia memvisualisasikan tumor yang ada dalam otaknya. Setiap kali dia melakukannya, dia menggambarkan bahwa tumornya semakin hari semakin mengecil. Dia dapat membayangkan sel-sel kanker dihancurkan oleh sistem imunitas alami dalam tubuhnya. Dan dia dapat merasakan bahwa setiap dia pergi ke kamar kecil, sel-sel kanker yang mati tersebut dibuang dari tubuhnya. Demikian pula setiap dia merasakan sakit yang luar biasa, dia tidak berpikir bahwa sel-sel kankernya sedang bertumbuh dan menyerang untuk membawanya ke kematian, namun justru dia berpikir bahwa rasa sakit itu karena sel-sel kanker itu mengkerut dan semakin kecil dan semakin kecil.Selain itu dalam keadaan meditasi dia selalu melakukan afirmasi, ”Every day in every way, I am getting better and better.” Dia senantiasa berpikir positif dan optimis. Setiap dia makan, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa makanan yang dia makan memberinya energi dan membuat dia semakin sehat dan semakin sehat. Dan rasa cinta dari keluarga dan teman-temannya dia rasakan sebagai kekuatan untuk membantu proses penyembuhannya.Dua bulan setelah dia memprogram ulang pikiran bawah sadarnya, dia memeriksakan dirinya ke dokter. Sang dokter sungguh terkejut ketika mengetahui bahwa tidak
ada sisa tumor sama sekali dalam tubuhnya.
Prinsip-Prinsip Penyembuhan Diri Setiap kita sesungguhnya dapat dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri kita sendiri manakala kita menderita sakit yang cukup parah. Tubuh kita diciptakan lengkap dengan sistem dan mekanisme penyembuhan yang secara otomatis mengatasi setiap gangguan yang terjadi dalam tubuh kita. Namun seringkali justru pikiran kita sendiri yang memperparah kondisi penyakit kita. Berikut adalah sejumlah prinsip yang perlu kita perhatikan dalam rangka memelihara kesehatan dan untuk menyembuhkan diri sendiri.
1. Apa yang kita yakini itu yang terjadi Dalam sebuah penelitian tentang efek plasebo terbukti bahwa apa yang kita yakini sangat mempengaruhi apa yang terjadi pada kita. Dalam penelitian itu sejumlah pasien diberi tiga perlakuan obat pengurang rasa sakit yang berbeda: obat ringan, placebo (bukan obat sesungguhnya), dan morfin dosis tinggi.Pasien yang diberi placebo namun diberitahu bahwa itu morfin, ternyata merasa bahwa rasa sakitnya hilang. Sedangkan pasien yang diberi morfin namun diberitahu bahwa dia diberi obat ringan, lebih dari separuh masih merasakan sakit. Apa pun yang diyakini oleh para pasien justru lebih penting dari pada apa yang sesungguhnya terjadi.
2. Sikap kita menentukan kesehatan kita Ketika pertama kali kita tahu bahwa kita mengidap penyakit, biasanya respon awal adalah panik. Pikiran kita kemudian menjadi lumpuh oleh ketakutan. Semakin parah penyakit kita, semakin takut kita jadinya. Menurut Wallace Ellerbroek -- seorang ahli bedah yang akhirnya menjadi psikiater – kita sering memandang penyakit sebagai makhluk asing yang memasuki tubuh kita, bukannya sebuah proses. Jika kita memandang penyakit sebagai suatu proses untuk menuju keseimbangan baru, maka kita dapat membantu proses penyembuhan itu sendiri. Kekuatiran dan harapan negatif kitalah yang menyebabkan penyakit itu. Dengan kata lain, orang-orang yang takut kena penyakit lebih berpeluang untuk terkena penyakit sebab tubuhnya terkena dampak dari ketakutannya sendiri.
3. Obat terbaik adalah tertawa Kita tahu bahwa orang yang tertekan, selalu sedih dan berpikiran negatif lebih sering terkena penyakit daripada orang yang selalu riang dan gembira. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental yang penuh tekanan seperti: rasa bersalah, kegelisahan, kekuatiran, marah, dan ketakutan dapat menghalangi berfungsinya sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian medis baru-baru ini terbukti bahwa jika kita tertawa, tubuh kita mengeluarkan dua jenis hormon dari otak yang amat penting yaitu enkephalins dan endorphins yang dapat mengurangi rasa sakit, ketegangan dan depresi.
4. Berpikir sehat setiap hari Setiap hari usahakan untuk meluangkan waktu beberapa menit mengisi pikiran kita dengan pemikiran tentang kesehatan dan kekuatan. Kirimkan pesan positif ke aliran darah, jaringan dan sel-sel tubuh kita. Bayangkanlah energi yang mengalir ke dalam tubuh kita. Rasakan bahwa tubuh kita adalah sebuah mesin yang dapat memperbaiki diri sendiri. Latihan ini merupakan penguat dan penyegar tubuh kita.
5. Lakukan afirmasi setiap hari Setiap saat selalu katakan ”Every day in every way I am getting better and better.” Setiap hari saya semakin sehat dan semakin baik. Ingatkan diri kita bahwa tubuh kita dapat sembuh secara alami dan dapat memperbaiki diri sendiri. Afirmasikan senantiasa bahwa ”My body is a healing mechanism.”
6. Meditasi dan visualisasi Salah satu cara mengatasi rasa sakit adalah dengan menggunakan warna. Rasa sakit adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres atau tidak seimbang dalam tubuh kita. Jika kita terserang rasa sakit, anggaplah bahwa rasa sakit itu seperti warna merah. Pertama-tama, tingkatkanlah rasa sakit itu di pikiran kita dan bayangkan warnanya semakin merah terbakar. Bila kita dapat meningkatkan rasa sakit berarti kita juga dapat menurunkan intensitasnya. Kemudian bayangkanlah warna merah itu menghilang dan gantikanlah dengan warna favorit anda, misalnya biru, kuning atau hijau. Lihatlah dalam layar mental kita bahwa warna merah menghilang dan berubah menjadi warna baru yang menggantikan.Setiap orang memiliki cara-cara sendiri untuk melakukan visualisasi dalam mengatasi penyakitnya. Yang pasti kita harus yakin dan disiplin secara rutin melakukan teknik visualisasi sampai penyakit itu hilang dari tubuh kita.
The Journalist is Bayu Putra Label:
Dalam kehidupan sehari-hari,kita sering tidak sadar diri tentang kesalahan yang kita buat, kita selalu bisa melihat kesalahan yang dibuat orang lain, secara tidak sadar kita pun sering melakukan perbuatan salah, tapi terkadang kita merasa apa yang kita perbuat sudah benar walau ternyata yang kita lakukan membuat orang lain sakit hati, atau melukai orang lain, atau cara pandang atau konsep diri yang kita buat ternyata memiliki kekurangan atau kekeliruan. Untuk menyadari kesalahan diri sendiri itu sangat susah, kita harus bisa jujur pada diri sendiri, Jujur saja saya mungkin tanpa disadari sering melakukan kesalahan, tapi tanpa tahu mana yg namanya Kesalahan dan mana yang tidak,sering kita secara tidak sadar sudah berbuat Kesalahan, baik yang Kesalahan kecil maupun Kesalahan besar.Coba merenung sedikit tentang pola atau tingkah laku yang kita lakukan,apakah semua yang kita lakukan sudah benar, apakah yang kita perbuat tidakmenyakiti orang lain?, saat ini orang banyak terlena pada egonya "emang gue pikirin yang penting gue Heppy" kalau kita bersikap seperti ini yang terjadi kita akan mendapat musuh yang banyak, karena kita harus sadar kita hidup di masyarakat, kita selalu bersinggungan dengan orang lain, terkadang kita membutuhkan orang lain.Dalam berintropeksi diri kita harus berani merubah pola pikir kita yang memang kita anggap salah,Yang di maksud merubah pola pikir adalah merubah cara pandang. Sering Cara pandang yang salah itulah yang harus kita rubah mulai dari sekarang.Sekarang ini, jarang sekali orang bisa melakukan perubahan pola pikir, kitacenderung mengikuti kebiasaan perilaku yang telah terbentuk dari dalam dirikita, coba kita belajar untuk bisa berubah dan instropeksi diri kita Dengan belajar seperti itu,kemungkinan besar kita akan lebih maju dan bisa memahami permasalahan atau problem,dan bahkan bisa menyelesaikan permasalahan atau problem yang sedang di hadapinya.Intropeksi diri juga bukan media untuk menyalahkan diri kita, apa yang memang sudah sesuai dengan norma, atau sesuatu yang sudah baik, harus kita tingkatkan, jangan sesuatu yang sudah baik dan sesuai dengan norma atau aturan yang ada kita balik menjadi kurang baik, mungkin saat ini menjelang puasa Ramadhan yang kurang dari 1 bulan lagi kita jadikan momentum untuk instropeksi diri kita. Sebagai manusia kita merasanya lebih enak mengomentari orang, secara sekarang banyak banget pencari bakat yang tayang di tv membutuhkan banyak komentator , belum lagi banyak pemerhati yang menanggapi tentang negeri ini tanpa ada perubahan cuma ngomong doang, coba sebelum mengomentari oranglain, kita intropeksi diri dan komentari diri sendiri, sudah baik kah kita saat ini? kalau belum jangan ragu untuk kita bisa berubah, ke arah yang lebih baik.Terkadang saya juga banyak berfikir pada pujian dari rekan sahabat yang mampir atau memberi komentar pada blog atau tulisan saya, dalam waktu sebulan ini saya mencoba berintropeksi diri mempertanyakan apakah saya pantas menerima pujian itu , apakah memang saya sudah jadi manusia yang lebih baik dari lainnya? mungkin lebih baik kita menyadari betapa lemah kita dan kurangnya kita, sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih baik. Jadi jangan takut untuk berintropeksi diri sendiri, jangan ragu mengakui kelemahan diri sendiri, jika dengan berintropeksi untuk diri sendiri kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di hadapan tuhan dan dihadapan sesama manusia, memang untuk jujur itu sangat berat, tapi itu lebih baik dari pada kita membohongi diri sendiri bukan, mari kita mulai jujur pada diri sendiri,mulai saat ini, untuk kebaikan diri kita sendiri. dan saya meminta bantuan doa kepada sahabat, agar saya tetap ISTIQOMAH intropeksi diri dan lebihmenyadari siapa saya yang sebenarnya dan tak harus memakai topeng kemunafikan, dan menjadi diri sendiri."Mari menjadi pribadi lebih baik dengan Instropeksi diri sendiri".
The Journalist is Bayu Putra Label:
BEROLAHRAGA teratur memang berfaedah bagi kesehatan terutama menekan risiko kanker. Namun demikian, manfaat aktivitas fisik tidak akan ada artinya apabila kualitas tidur relatif buruk. Suatu riset di Maryland Amerika Serikat melibatkan 5.968 partisipan belum lama ini mengindikasikan, tidur dan olahraga adalah dua komponen yang sama-sama penting dalam mempengaruhi risiko kanker. Kualitas dan kuantitas tidur ikut menentukan besar kecilnya risiko kanker khususnya di kalangan wanita. Mereka yang berolahraga teratur memang berisiko lebih kecil mengidap kanker. Tetapi ketika peneliti menelisik kelompok yang termasuk aktif berolahraga, pemenuhan kebutuhan akan tidur ternyata mempengaruhi risiko kanker.Partisipan yang tidurnya kurang dari tujuh jam setiap malam tercatat memiliki risiko 47 persen lebih besar mengidap kanker dibanding mereka yang secara fisik aktif dan tidurnya cukup. Hasil peneltian ini dilaporkan dalam jurnal American Association for Cancer Research.Pimpinan riset, James McClain, dari National Cancer Institute menyatakan timnya belum dapat menjelaskan mengapa kurang tidur dapat menyebabkan wanita lebih rentan terhadap kanker. "Mendapat tidur yang cukup sejak lama memang berkaitand dengan kesehatan," kata McClain Para ahli mengatakan kurang tidur yang sifatnya sudah khronis berkaitan dengan problem obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi , stroke, penyakit pembuluh darah, depres, kebiasaan merokok dan minum alkohol secara berlebihan.Selain itu, penelitian juga menunjukkan orang yang melakukan olahraga teratur berisiko lebih kecil mengidap kanker payudara, kanker usus dan tipe kanker lainnya. Para ahli memperkirakan, olahraga memberikan pengaruh besar terhadap kadar hormon, kekebalan tubuh dan berat badan.
The Journalist is Bayu Putra Label: